Forum Grafika Digital

Login Form

  • Create an account
    *
    *
    *
    *
    *
    Fields marked with an asterisk (*) are required.
  • ARSIP FGDnewsroom

    E-mail Print PDF

    Sample imageEDGE 2008
    Oce Andalkan Mesin Cetak Copy Press

    Kompas, Sabtu 21 / 06 / 2008 GALERI BISNIS

    Dalam beberapa tahun terakhir, industri percetakan terus mengalami perkembangan. Teknologi canggih dan mengandalkan efisiensi biaya pun jadi yang utama. Seperti Oce, pabrikan mesin cetak asal Jerman danBelanda ini menghadirkan mesin cetak Copy Press, tinta yang digunakan langsung di pres dan kering meresap ke serat kertas.

    Ferry Sutrisno, Marketing Support PT Askomindo Dinamika, distributor mesin Oce di Indonesia, mengatakan, dengan teknologi copy press tersebut tinta toner yang tercetak tidak timbul serta tidak menyebabkan lengket [kertas bidang cetak merekat satu sama lain-red].

     

    “Untuk cetakan warna, Oce menggunakan system monolayer, dimana pencampuran warna tidak tercampur begitu saja namun sendiri-sendiri.” Paparnya.

    Diakuinya, produk Oce dikenal dengan system direct imaging, dimana teknologi pembentukan gambar dengan cara sistem transfer, sementara mesin lain menggunakan electra photography. Dengan system tersebut, lanjutnya, proses krja mesin lebih singkat dan cepat, sehingga mampu menghemat toner selain hasil cetakan lebih stabil presisinya.

    “Teknologi terbaru lainnya, untuk Oce Vario Print 6250 kita menggunakan system Gemini Duplex, dimana mampu mencetak sekaligus bolak-balik dengan hasil dan presisi sempurna.” Jelasnya.

    Penting, Edukasi SDM Grafika

    Adalah Yusuf Harjo Lelosaputro, SE, Sales Manager CV Niki, distributor tinta offset printing merek Esae, masih melihat kekurangan dari sisi SDM Grafika ditingkat operator mesin percetakan.

    “Untuk kelangsungan industri grafika, dituntut harus memiliki SDM handal karena operasional mesin percetakantidak sama dengan mesin-mesin lainnya.” Jelas Yusuf seraya menjelaskan, bahwa seorang operator harus tahu perhitungan pemakaian tinta setiap ada order cetak.

     “Disiplin adalah investasi yang harus ditanamkan pada operator. Di Jepang seorang operator bisa membuat perhitungan tepat ketika harus mencetak.” Masih menurut Yusuf, dengan percobaan-percobaan untuk mendapatkan ketepatan warna misalnya, perusahaan telah rugi waktu, kertas dan tinta yang terbuang.

     “Tak hanya disiplin dalam kebersihan saja, tapi juga kesabaran dan tak hanya sekedar bisa mengoperasikan mesin.” Tandasnya.

    Jadi, perlu dilakukan pelatihan yang kontinyu untuk mendapatkan SDM Grafika yang terampil dan professional. [mahar]

     

     

    ***
    EDGE 2008
    KIP Hadirkan Mesin Printer Toner Terbesar

     

    Kompas, Jumat, 20 Juni 2008

    Banyak perkembangan menarik di dunia grafika dan teknologi informasi yang tersaji dalam pameran East Design & Graphic Expo [EDGE] 2008, yang digelar Forum Grafika Digital [FGD] bersama Dyandra Promosindo di Gramedia Expo, Jl. Basuki Rahmat Surabaya, 18-21 Juni 2008.

    Salah satunya, yakni mesin printer & copy yang tercanggih dan pertama di Indonesia, bahkan di dunia, dihadirkan oleh KIP. Pabrikan asal Jepang ini memanfaatkan moment pameran EDGE 2008 sebagai ajang untuk memperkenalkan produk terbarunya, yakni KIP C80. Jika mesin pada umumnya masih menggunakan tinta, KIP C80 sudah menggunakan tinta toner, sehingga gambar dan pencahayaan yang dihasilkan lebih tajam.

    Kristanto A, SKom, Marketing Manager PT KIP Indonesia, mengatakan, mesin baru tersebut mampu mencetak gambar atau media hingga ukuran A0 [120x90 Cm] dengan kecepatan rata-rata 4,8 meter per menit.

    “Jadi bisa dimanfaatkan untuk mencetak dan menge-print media indoor.

    Selama ini mesin sejenis hanya mampu mencetak ukuran maksimal A3.” Jelas Kristanto disela-sela pameran.

    Dengan kelebihan kecanggihan dan kualitas tersebut, pihaknya optimistis produknya bisa diterima pasar, apalagi harga yang ditawarkan cukup reasonable.

    KIP memang menjadi bagian dari sekitar 62 peserta yang tampil dalam ajang pameran EDGE 2008. Masih banyak lagi peserta lain yang menampilkan produk-produk terbarunya. Mereka bergerak di bidang industri percetakan, kemasan, penerbitan, digital printing, signage, tinta, material coating, kertas, adhesive label, promo banner, vinyl dan plastic, dan sejumlah industri pedukung lainnya. [mp]
    www.kompas.com/EDGE_2008 atau www.explore-indo.com/investasi

     

    ***
    EDGE 2008 Gramex, Digital Geser Printing?

     

    Tuesday, 17 June 2008

    SURABAYA-SURYA-Perkembangan teknologi membuat industri digital semakin menggeser peran industri printing [konvensional, ed]. Ini terjadi setelah banyak mesin digital grafika yang dimiliki industri packaging dalam memproduksi barang kemasan.

    “Itu semua terkait perubahan perilaku dari produsen yang dulunya suka dengan kemasan ukuran besar kini berubah menjadi kemasan kecil,” kata Herman Pratomo, Marketing Director FGDexpo dalam penyelenggara pameran East Design & Graphica Expo (EDGE) 2008 di Gramedia Expo Surabaya, Senin (16/6).

    Diungkapkan Herman, fenomena tersebut hampir terjadi pada semua produk barang-barang konsumsi. Alasanya, karena untuk melakukan penghematan dan sebagai upaya mengikuti persaingan harga.

    Selain itu, menurut Herman, tren pasar kemasan produk lebih kecil tersebut juga untuk memberikan kesan produk yang dijual tidak mahal. Apalagi menaikkan harga jual produk menjadi suatu hal yang sensitive dan berisiko besar ditengah menurunnya daya beli masyarakat.

    “Maka untuk menyiasati itu dipilihlah strategi mengecilkan ukuran kemasan,” tukas Herman.

    Sedangkan dipilihnya Surabaya sebagai arena pameran East Design & Graphic Expo 2008 ini, jelas Herman, karena di Surabaya banyak terdapat perusahaan packaging yang berbahan baku kertas, plastic dan metal. Produksi perusahaan packaging itu untuk memenuhi kebutuhan ribuan perusahaan di Jatim diantaranya perusahaan rokok dan barang konsumsi.

    “Itulah mengapa EDGE 2008 kami hadirkan dalam suatu pameran di Surabaya mulai 18 - 21 Juni 2008,” ujar Herman.

    Event pameran EDGE 2008 sendiri, imbuh Herman, diikuti oleh perusahaan percetakan kemasan, digital printing, tinta & kertas, signage dan beberapa industri pendukung lainnya. Sedangkan sebagai pendukung pameran, bakal diselenggarakan seminar tentang industri packaging dan industri digital printing.

    “Kami harapkan seminar itu bisa menjadi media edukasi bagi masyarakat untuk lebih mengetahui bisnis grafika moderen," tutur Herman. [Aru]

    Surya Online
    http://www.surya.co.id/web



    ***

    EDGE 2008 Buka Peluang Bisnis

    Saturday, 07 June 2008

    SURABAYA - Hingga sekarang ini belum banyak pelaku usaha yang menggeluti bisnis grafika. Padahal, dunia grafika merupakan industri yang memiliki potensi dan peluang bisnis cukup besar, serta sangat menjanjikan.

    “Alasan itu menjadi dasar kami untuk menyelenggarakan pameran East Design & Graphic Expo (EDGE) 2008 di Gramedia Expo (Gramex) Surabaya,"; kata Adriean, dari Dyandra Promosindo dalam rilisnya kepada Surya, Jumat (6/6).

    Adrien mengatakan, dalam pameran grafika terbesar di Surabaya itu akan diikuti oleh perusahaan percetakan kemasan, digital printing, tinta dan kertas, signage dan beberapa industri pendukung lainnya.

    Selain itu, pameran grafika juga disinergikan dengan berbagai event seminar tentang industri packaging dan industri digital printing.

    “Dengan begitu, event pameran ini kami harapkan menjadi media edukasi yang baik bagi masyarakat wilayah timur dan Surabaya khususnya,”; ucap
    Adriean.

    Untuk lebih bisa dikenal masyarakat, EDGE 2008 juga memberikan informasi, edukasi dan pengalaman baru, yang dikemas dalam beberapa sesi seminar dan workshop. Dalam rangka sosialisasi, juga dilakukan kunjungan ke Sekolah Menengah Kejuruan Grafika dan ke kampus-kampus di Surabaya.

    “Kami berharap langkah sosialisasi ini menjadikan industri grafika semakin dikenal masyarakat secara luas bukan hanya di arena pameran,” tukasnya.

    Sejumlah tema dalam seminar digelar mulai 18 Juni hingga 21 Juni 2008, tentang global design with cultural competency oleh Universitas Katolik Petra. Selanjutnya, seminar product presentation dengan tema digital/real proofing for rotogravure printing oleh Yan Wei Phing dari gmg proofing software, dan masih banyak lagi.

    “Masyarakat bisa mengikuti berbagai seminar dan workshop yang kami selenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan tentang industri grafika,” tutur Adriean.

    aru
    Surya Online
    http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reserved Generated: 22 June, 2008, 22:40

     

    ***

    Digital POD, Canggih dan Berwawasan Lingkungan
     

    "Sedang terjadi transisi pada masyarakat dalam kaitannya dengan industri grafika." Setidaknya itulah menurut  Arifin Partono-Chief Executive Production Services Business Operations [Dir. PSBO] PT Astra Graphia Tbk,.

    Perkembangan itu terlihat dari masyarakat yang dulunya konservatif dengan mengandalkan cetak offset dengan kapasitas cetak yang juga harus banyak. Sedangkan kini, orang mulai beranjak ke digital printing on demand atau yang biasa disebut POD. Meski secara geografis Indonesia berada dalam territorial luas, namun teknologi digital telah memberikan solusinya, bisa diakses kapan saja dan dimana saja, karena POD memungkinkan cetak jarak jauh.

    Dengan digital POD, memungkinkan dimana customer dapat melakukan order atau permintaan mencetak barang-barang cetakan sesuai dengan kebutuhan. Lain halnya pada era sebelum digital POD dikenal. Kalau dahulu orang tidak mau tahu, yang penting cetak barang cetakan misalnya materi promosi, lalu disebarkan ke seluruh lapisan masyarakat, tidak memperhatikan apakah akan mendapat respon bagus atau tidak.

    Dahulu, rata-rata respon rate  1% dari materi promosi yang diedarkan, artinya kalau ingin mendapat tanggapan dari 1000 target market, maka harus mencetak sekian banyak, dan yang pasti selain ongkosnya menjadi sangat besar, bahan baku yang dihabiskan juga semakin banyak.

    Dengan bermain pada tataran digital, banyak keuntungan dapat diraih terutama dalam kaitan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan kegiatan promosi. Karena dengan kemampuan mencetak dalam jumlah terbatas sesuai kebutuhan, pelaku promosi akan melakukan pilihan target audience,  betul-betul melihat segmen mana yang akan dibidik, dan itulah yang akan dikirim materi promosi,  hal ini memungkinkan kegiatan promosi tepat sasaran dimana terjadi proses touching secara personal terhadap customer.

    Mengamini hal diatas, Arifin Partono memberikan penuturan cukup menarik mengenai pentingnya melakukan seleksi market atau sasaran promosi, serta kaitannya dengan kegiatan produksi dan pemakaian bahan baku yang ramah lingkungan.

    “ Terus terang saat ini industri grafika kita masih mengandalkan penggandaan, dimana satu dokumen yang sama dicetak sekian banyak dan disebar. Sedangkan kita melihat tren dunia bahkan di regional Asia seperti Hongkong, Jepang dan Singapore telah melakukan selective promotion.” Sambungnya, “Apa sih tujuan selective market? Seperti kita tahu, dunia sedang mengalami global warming, penggundulan hutan dimana hutan ditebang dipakai untuk pembuatan bubur kertas [pulping], pencemaran lingkungan juga harus dibatasi. “

    Menurutnya, aksi paling nyata segera bisa dilakukan masyarakat pelaku dan pengguna jasa serta produk digital adalah dengan kegiatan selective promotion tadi. Itu berarti, tidak mencetak materi promosi secara gebyah uyah tapi lebih ke captive market.

    “Dan yang lebih penting lagi adalah response rate, bagaimana ide dan kegiatan tadi mendapatkan feedback dari target audience yang dituju. Disamping itu bagaimana cara memproduksi dan mereproduksi, bagaimana peralatan yang kita pakai juga green untuk lingkungan.” tegasnya.
    [mhr]

    ***
    Dari EDGE 2008 Di Gramex
     

    Kemasan Ukuran Kecil Dominasi Pasar 

    Thursday, 19 June 2008

    SURABAYA-SURYA-Naiknya harga berbagai barang kebutuhan pasca kenaikan harga BBM membuat produsen barang konsumsi mulai mengecilkan ukuran kemasan. Hal ini sebagai upaya untuk menyiasati melambungnya biaya produksi kemasan barang juga untuk menghilangkan kesan harga mahal kepada barang konsumsi.

    “Ini menjadi tren pasar sekarang ini. Karena kenaikan harga menjadi sesuatu yang menakutkan bagi produsen ditengah lemahnya daya beli masyarakat,” kata Herman Pratomo, Chief Marketing Director FGDexpo di arena pameran East Design & Graphica Expo (EDGE) 2008 di Gramedia Expo Surabaya, Rabu (18/6).

    Selain itu, dikatakan Herman, sebagai upaya untuk melakukan penghematan biaya kemasan, dewasa ini produsen barang konsumsi berusaha memanfaatkan bahan baku yang lebih fleksibel seperti plastik. Yang mana kemasan plastic tersebut harga bahan bakunya lebih murah serta tampilan kemasan lebih baik dan menarik.

    “Ini menjadi alasan mengapa sekarang ini produsen lebih menyukai kemasan plastik,” ucap Herman.

    Meski demikian, menurut Herman, kemasan berbahan baku lain seperti karton, campuran plastic dan metal serta berbahan baku kaleng juga tetap digunakan untuk kemasan berskala lebih besar. Dan umumnya, kemasan dalam ukuran lebih besar banyak digunakan oleh kalangan pengusaha kecil menengah dalam proses pengiriman hasil produksi jarak jauh.

    “Yang jelas, ukuran kemasan pada dasarnya tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan peruntukkan. Jika kemasan ditujukan kepada konsumen langsung maka kemasan kecil cukup diminati. Tetapi jika untuk pengiriman barang jarak jauh dan partai besar maka kemasan besar lebih banyak dipilih produsen,” tukas Herman.

    Sedangkan untuk dapat menghasilkan kemasan produk yang baik, ungkap Herman, tidak terlepas dari peralatan dan proses pengemasan. Apabila peralatan cukup moderen seperti digital printing dan proses pengemasan menggunakan mesin berteknologi tinggi maka bisa dijamin produk kemasan barang akan berkualitas tinggi. Karena kemasan bisa sebagai media promosi barang dan bukan hanya sekedar menempel gambar atau simbol produk.

    “Dan proses pengemasan barang tercanggih saat ini bisa diketahui dan disaksikan di even pameran EDGE 2008 di Gramex Surabaya mulai 18 - 21 Juni 2008,” ujar Herman.

    Sementara Adriean E Prasetyo, Junior Project Manager PT Dyandra Promosindo menambahkan, event yang diadakan dua tahun sekali ini memamerkan berbagai mesin cetak berukuran besar. Selain itu juga ditampilkan industri digital printing, tinta & kertas, dan industri pendukung lain.

    “Setidaknya ada sekitar 60 perusahaan menjadi peserta di arena EDGE 2008. Tentunya beraneka produk unggulan disuguhkan kepada pengunjung disertai berbagai penjelasan seputar industri percetakan," tukas Adriean. K4

    Surya Online
    http://www.surya.co.id/web Powered by Joomla! - @copyright Copyright (C) 2005 Open Source Matters. All rights reserved Generated: 23 June, 2008, 17:11

    ***


    Optimisme Industri Grafika: Omzet Naik 300%

    Industri grafika adalah salah satu sektor penyumbang terbesar dalam pertumbuhan industri kreatif di Indonesia. Tahun lalu, pertumbuhan
    industri kreatif di Indonesia mencapai 4,7% dari pendapatan domestik bruto (PDB).

    "Ekspor saya tahun lalu melonjak 300%. Saya sempat heran sebab hal itu terjadi di tengah situasi ekonomi dunia dengan harga minyak yang turun naik," kata Felix S Hamidjaja, Direktur PT Indokonverta Indah, Perusahaan yang bergerak di bidang percetakan rotogravure, mengawali sambutannya dalam acara Launching FGDexpo2009, di Jakarta.

    Dalam kacamata Kepala Pusat Grafika Nasional (Pusgrafin) Bambang Wasito Adi, situasi makro ekonomi yang digambarkan penuh anomali saat ini menjadi berkah tersendiri bagi pengusaha yang bergerak di industri kreatif.

    "Kita punya kesempatan untuk memacu industri kreatif lebih maju lagi dengan meningkatkan sumber daya yang ada. Apalagi, sejumlah pengusaha yang bergerak di bidang grafis ini justru mengaku meraup laba besar, tahun lalu. Padahal harga minyak mentah justru naik turun," katanya, seraya menambahkan bahwa potensi industri ini telah terbukti meski Indonesia belum punya lembaga pendidikan tinggi setingkat universitas khusus di bidang grafika.

    Data Departemen Perdagangan (Depdag) menyebutkan kontribusi industri kreatif terhadap PDB nasional malah mencapai angka 6,3%. Sektor ini dilaporkan mampu menyerap 4,9 juta tenaga kerja.

    Tentu data diatas membawa angin segar bagi industri grafika khususnya dan industri kreatif pada umumnya. Sampai jumpa di FGDexpo2009!

    ***

    SEPENGGAL CATATAN DARI EDGE2008
    Dari Timur Menuju FGDexpo2009


    EDGE2008, interval event FGDexpo telah diselenggarakan pada tanggal 18-21 Juni 2008 di gedung Gramedia Expo Surabaya, menggunakan total area pamer seluas 4.000m2. Adalah upaya konkrit dari FGDforum untuk terus mengembangkan dunia grafika di Indonesia, khususnya wilayah timur.

    Dipilihnya Surabaya sebagai tempat penyelenggaraan karena Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Jakarta , sekaligus merupakan kota industri dan menjadi kota penghubung untuk wilayah Timur Indonesia seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua dan Kepulauan Nusa Tenggara.

    Dunia grafika merupakan industri yang memiliki potensi dan peluang bisnis yang sangat menjanjikan. Tidak hanya menampilkan desain grafis dan digital printing, EDGE2008 juga mengedepankan industri grafika secara utuh yang terangkum dalam tiga pilar utama yaitu 3P :Pengemasan (Packaging), Promosi (Promotion), dan Penerbitan (Publishing).

    Aneka produk terkini industri grafika tampil pada pameran ini. Oce tampil produk Flatbed UV Printing, Kipindo dengan mesin terbaru ink jet untuk pengolahan dokumen, HP-Indigo dan Canon oleh Samafitro, mesin-mesin kemasan oleh Unimes, Konica Minolta diusung Asaba, sedangkan mesin-mesin finishing dipamerkan oleh Wujud Unggul, serta ada Niki dengan tinta baru Esae, dll.

    Perhelatan dua tahunan yang merupakan interal dari FGDexpo ini menjadi lebih berbobot dengan aneka acara pendukung menarik seperti Packaging & Labeling Seminar bersama Anwar Kurniawan, Hengky Wibawa, John Anderson, dan Marchadi.

    Kemudian diselenggarakan pula Seminar Business Opportunity in Digital Printing bersama Andi S. Boediman, Irawan Adi Prasetyo, Irvan A Noe’man, Ivette Tan, Thjin Bui Phin.

    EDGE2008 juga menampilkan “Young Comic Exhibition” dengan tema yang sangat menarik yakni BANGKIT CERGAM INDONESIA, pameran komik lokal yang telah banyak berbicara di panggung internasional bersama Masyarakat Komik Indonesia .

    Selain itu diadakan Pameran Pemenang Lomba Poster “DJ to DJ Poster Exhibition/Dalang Jawa to Disc Jockey Poster Exhibition” yang diikuti oleh seluruh mahasiswa industri kreatif di Surabaya.

    Sementara pada One Day Global Packaging & Labelling Seminar, dilaksanakan Seminar yang mengusung tema “How to Maintain the Packaging & Labeling Industry to Meet the Global Competition” dengan bahasan terkini yang menarik oleh pemakalah: Global Design with Cultural Competency, Digital/ Real Proofing for Rotogravure Printing, Flexible Packaging Development: New Concept in Development of Packaging Materials, Label Printing; Packaging Marketing-Small Pack & Small Sachet: Frustration or Breakthrough; Die Cutting & Folding Box Machinery; What is ISO 12647.

    Para pakar dan profesional di industri pengemasan dan label hadir sebagai pemakalah dan narasumber antara lain Anwar Kurniawan [Packaging Marketing-Small Pack & Small Sachet: Frustration or Breakthrough], Clay Wala [What is ISO 12647], Henky Wibawa , John Anderson, Marchadi , Yan Wei Phing Kemudian Shandi Widjaja membahas Great Package To Match The Needs.

     

     

    Peluang dan Ancaman Digital Printing

    Irawan Adi Prasetyo dari Fuji Xerox International membawakan materi One to One Marketing: Need and the State of Art. Mengutip The State of the Printing Industry [Andrew D. Paparozzi, Chief Economist NAP] “Our industry is not simply changing, it is being redefined … creating historic opportunity for the prepared, and profound threats for the unprepared. Absolutely no one, no matter how big, how well established or how successful in the past can  afford to do business the same old way.”

    Dengan segala peluang dan tantangan diatas, berarti menciptakan kesempatan bagi mereka yang telah mempersiapkan diri dan menjadi ancaman jika tidak mempersiapkan diri. Konsep One to One Marketing, juga mengandaikan  seorang marketer harus mampu berkomunikasi dan melayani individu dengan menyampaikan pengalaman pribadi berharga dan unik…”

    “To be a genuine 1 to 1 marketer, you have to be able to communicate and service individuals by providing a unique and valuable personal experience…” (Coravue Inc. White Papers)

    Dalam One-day Seminar on Digital Printing: Business Opportunity & New Marketing Strategy with Digital Printing. Seminar ini membahas peluang-peluang bisnis terbaru di dunia Digital Printing.

    Large Format Printing: Big Promotion = Big Graphics dikupas secara menarik dengan kejutan-kejutan ide oleh Irvan A. Noe’man,  pelaku profesional di bidang desain sekaligus pendiri BD+A Design. Menjadi lebih lengkap lagi, setelah pemakalah lainnya, Thjin Bui Phin, memberikan uraian menarik tentang UV Flatbed Large Format Printing.

    Ivette Tan [Develop] dari Singapura mengupas tema Why Digital Colour di era digital ini. Digital Colour, mengandaikan “your picture on almost anything like an albums, mainan, mug, buku, kanvas, dan kemasan atau permukaan apapun yang bisa untuk bidang cetak.”

    Melengkapi berbagai ilmu yang di share oleh para pembicara, Pakar Industri Kreatif dan pemilik Digital Studio Andi S. Boediman, lebih dalam membahas bagaimana agar berbagai ilmu pengetahuan dan kreatifitas tersebut  dapat digunakan sebagai bekal menciptakan peluang, terutama di bidang digital publishing.

    How To Create A New Business In Digital Publishing, adalah tema yang dipresentasikan enterpreneur muda ini. Dengan menampilkan judul presentasi Reinventing Printing & Publishing, paparannya membawa energi positif bagi pelaku bisnis Digital Printing On Demand.

    Dan satu hal mengejutkan justru saat pemakalah dari CV NIKI yang dalam pameran ini mengandalkan tinta offset Esae. Adalah Syaiful Ahmad, tema Keseimbangan Dalam Penanganan Tinta Offset yang dibawakannya membuat ruang seminar dipenuhi peserta. Rupanya tema ini cukup menarik meskipun terlihat teoritis akademik. Kesempatan ini dimanfaatkan
    Syaiful untuk berbagi pengalaman sambil melakukan edukasi kepada peserta dengan cara berdialog secara interaktif. Sayang, moment ini
    terpisah dengan Standard ISO 12647 yang dibawakan Clay Wala yang seharusnya saling melengkapi.

    Setali tiga uang dengan Sales Manager CV NIKI, Yusuf Harjo Leosaputra. Edukasi, adalah sesuatu yang penting bagi SDM bidang grafika. “Butuh pelatihan-pelatihan kontinyu dan kesabaran, karena operasional mesin percetakan tidak seperti mesin lainnya.” Lanjut Yusuf, “Budaya disiplin juga harus dimiliki seorang operator, tak cukup hanya bisa mengoperasikan saja.” Tandasnya mengakhiri perbincangan dengan Team Liputan FGDnewsroom, Surya dan Kompas Jatim. [mahar]

    Last Updated ( Tuesday, 09 June 2009 10:08 )  
    You are here: Home